Syahrial Baktiar Pimpin KONI Sumbar, Tidak Ada Istilah Utara dan Selatan
Sabtu, 13 Desember 2008
PADANG, METRO--“Saya sebenarnya tidak ingin maju menjadi ketua umum KONI ini, soalnya pendidikan saya di Amerika Serikat belum selesai. Tapi desakkan dari rekan-rekan memaksa saya maju,” ujar Syahrial Bakhtiar kepada POSMETRO usai penetapannya sebagai ketua umum KONI Sumbar 2009-2013, kemarin.
Katanya, celah yang terjadi dalam pemilihan ketua umum ini merupakan bukti betapa rusaknya olahraga Sumbar. Kalau ini dibiarkan tentu prestasi Sumbar akan semakin rusak terhadap tindakan yang tidak sportif ini.
Olahraga adalah pengabdian, jadi mari bersama-sama memajukan olahraga Sumbar. “Kita tidak pungkiri tantangan olahraga Sumbar ke depan akan semakin berat. Bila diawal sudah seperti ini tentu prestasi akan sulit kita dapat. Tapi saya bersyukur kejadian seperti ini memperlihatkan kondisi olahraga Sumbar selama ini,” ungkapnya.
Agar KONI Sumbar tidak fakum dari kegiatan, Syahrial Bakhtiar akan segera menyelesaikan tugasnya menyusun kabinet.”Saya bersama dua anggota formatur akan menyelesaikan tugas sebelum batas waktu yang diberikan floor. Mohon doa restunya agar kepengurusan mendatang jauh lebih baik dari kepengurusan sebelumnya,” terangnya. Kondisi Musprov ini harus menjadi cacatan bagi Syahrial Bakhtiar dalam menyusun kabinetnya.
Jangan masalah yang merusak citra olahraga Sumbar ini kembali terulang. “Saya tidak akan membeda-bedakan pengurus. Tidak ada istilah bagian utara (UNP-red) dengan bagian selatan. Semuanya sama, kalau berprestasi akan dimasukkan dalam susunan pengurus. Mari bersama-sama kita bangun olahraga Sumbar ini agar kembali bisa bersaing,” ungkapnya (can)
Enam Kandidat Kalah Sebelum Perang, Apresiasi Pantas Diberikan Kepada Deddy SH
Sabtu, 13 Desember 2008
PADANG, METRO--Apresiasi lebih pantas diberikan kepada Ketua Umum Indonesia Karate-do (Inkado) Sumbar Deddy SH. Kendati enam kandidat kalah sebelum perang, namun Deddy SH tetap komit bersaing dalam bursa pemilihan ketua umum KONI Sumbar.
“Dalam olahraga kita harus berjuang. Jangan sebelum bertanding kita sudah menyatakan kalah. Lebih baik kita kalah terhormat seperti ini, dari pada mundur di tengah jalan,” ujar Deddy SH kepada POSMETRO, kemarin.
Memang dalam pemilihan Deddy SH tidak mendapat suara. Namun semangat olahraga sejati pantas diberikan kepadanya. Tidak seperti enam kandidat lainnya yang mundur sebelum bertanding. Padahal sebelumnya mereka sudah menyatakan keseriusannya untuk maju menjadi ketua umum dengan mempersiapkan segala program.
Tapi kenyataanya, mereka seolah-olah mencari sensai dan tidak memperlihatkan keseriusannya membangun olahraga di daerah ini. Memang diakui untuk mengurus olahraga tidak harus menjadi ketua. Tapi keputusan diambil enam kandidat ini disaat pembacaan visi dan misi kurang tepat. Kalau memang tidak ingin maju coba mengapa tidak jauh-jauh hari, seperti yang dilakukan Sengaja Budi Syukur.
Dia mundur saat pengembalian formulir. “Saya sangat meyangkan banyaknya kandidat yang mundur usai membacakan visi dan misi. Mereka kalah sebelum bertanding. Kalau diibaratkan atlet mereka merupakan atlet kampung yang takut bertanding dengan atlet nasional,” ungkap mantan Pelatih Karate Sumbar Henddy Luthan kepada POSMETRO, kemarin.
Keputusan yang diambil enam kandidat ini merupakan kelemahan dari sistem penjaringan bakal calon. Masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya tanpa memberikan rambu-rambu yang jelas. Seharusnya saat membuka pendaftaran ada aturan khusus untuk membatasi kandidat. Minimal dukungan dari cabang olahraga. Enam kandidat yang mundur sebelum perang itu, Syahrial SH, Budi Prakoso, Basril Taher, Azhar Latif dan Edwar DF. (can)